Selasa, 19 Februari 2019

PENTINGNYA SISTEM PEMBELAJARAN REFLEKTIF UNTUK MENINGKATKAN NILAI PEMBELAJARAN SOSIOLOGI



Refleksi adalah kegiatan inward-looking, sebuah proses melihat ke dalam diri sendiri. Dalam konteks pendidikan, refleksi mengacu pada kegiatan yang dilakukan untuk melihat hasil dari sebuah proses pembelajaran. Ruang lingkup kegiatan refleksi bukan berada pada diri guru saja namun mencakup keseluruhan konteks pembelajaran, yakni guru, siswa, sekolah dan termasuk di dalamnya adalah lingkungan. Isi dari kegiatan refleksi adalah menganalisis dan mengevaluasi kegiatan pembelajaran.  
Keberhasilan proses pembelajaran ditentukan oleh banyak faktor, yakni guru, murid, sekolah dan lingkungan. Guru yang pandai dan menguasai materi ajar tidak otomatis mampu membuat siswa mengerti apa yang ia ajarkan. Demikian juga, murid yang pandai dan cerdas tidak serta merta bisa mengerti apa yang guru ajarkan. Sekolah yang menyediakan sarana prasarana yang memadahi dan lingkungan yang kondusif juga tidak serta merta menghasilkan murid-murid yang hebat. 
Lalu apakah yang menjadi faktor penting keberhasilan pendidikan? Faktor pertama keberhasilan sebuah proses pembelajaran adalah murid. Bisa dikatakan subjek atau pusat pembelajaran adalah murid, bukan guru, sekolah atau lingkungan. Ada pepatah yang mengatakan demikian “Jika murid siap, guru selalu tersedia.” Murid memiliki arti penting dan sentral. Sehebat apapun guru mengajar jika murid tidak mau dan tidak siap untuk diajar, maka akan berat tugas guru tersebut. (Dalam bidang pertanian, seorang petani bisa menyediakan lahan yang subur, pupuk yang bagus, pengairan yang cukup, pencahayaan yang merata, dan obat-obatan yang baik, tetapi jika tidak ada “kesiapan” tumbuh dari tanaman maka usaha petani tidak akan berdampak besar. Demikian juga dalam bidang kedokteran, sehebat apapun dokter dan semanjur apapun obat, jika pasien tidak memiliki kesiapan untuk sembuh maka kesembuhan akan sulit didapatkan. Analogi itu sama untuk bidang pendidikan). Dalam konteks pendidikan, faktor utama proses pembelajaran adalah murid. Akan tetapi pepatah tersebut tidak mau menafikan fungsi seorang guru.
Dalam sejarah pendidikan di Amerika Serikat misalnya, kita bisa melihat guru-guru hebat yang bisa mengubah anak-anak yang tidak memiliki kemauan untuk belajar dan cenderung bertindak destruktif dan kontra produktif, tetapi berkat tindakan yang dilakukan guru, mereka bisa diubah menjadi anak-anak yang rajin dan berprestasi. Kisah-kisah itu bisa dilihat dalam film Freedom Writer atau The Ron Clark Story. Film ini didedikasikan untuk menghargai karya dan perjuangan guru-guru hebat yang mampu membawa perubahan di lingkungannya mengajar. Ilustrasi ini mau memberi penegasan bahwa peran guru masih sangatlah penting dalam proses pembelajaran. De facto tidak selamanya kita jumpai murid yang siap diajar atau sekolah dan lingkungan yang mendukung proses pembelajaran, dan karenanya menuntut peran penting guru dalam proses pembelajaran. Pada situasi serba minim seperti ini guru diuji kemampuan dan kreativitasnya. Dalam konteks seperti inilah model pembelajaran reflektif sangat diperlukan.
Pembelajaran reflektif memungkinkkan guru bisa mengambil peran yang optimal dalam proses pembelajaran. Melalui model pembelajaran reflektif ini guru bisa mengatahui beberapa hal berikut: a).sejauh mana minat atau motivasi murid untuk mengikuti pelajaran, b). tingkat keberhasilan strategi, model, metode, pendekatan dan teknik pembelajaran yang dipakai guru, c). keinginan dan kebutuhan murid untuk belajar, dan d). untuk mengidentifikasi kekurangan atau kelemahan guru dalam penyajian materi dan penguasaan kelas.

TANTANGAN ANAK MILENIAL
Ketika pusat pembelajaran adalah murid, maka guru perlu memberi perhatian serius pada murid, yang memiliki context of learning yang berubah dari waktu ke waktu. Memahami anak di lingkungan kota berbeda dengan memahami anak di lingkungan pedesaan karena konteks pembelajarannya berbeda. Memahami anak zaman sekarang dengan anak 15 tahun lalu juga berbeda. Setiap generasi memiliki ciri kasnya masing-masing. Murid-murid saat ini termasuk dalam generasi milenial, yang memiliki ciri-ciri antara lain mudah bosan, tidak bisa hidup tanpa gadget, suka dengan yang serba cepat/instan, memilih pengalaman daripada aset, multitasking, dan kritis terhadap fenomena sosial.
Tipikal karakter seperti itu membutuhkan perlakuan yang berbeda dari guru. Model pembelajaran reflektif akan sangat cocok bagi mereka, sementara pembelajaran instruksional kurang menyentuh hati mereka. Pembelajaran yang memberi kesempatan kepada mereka untuk melakukan eksplorasi di dunia digital atau memberikan pengalaman kepada mereka mengenai materi yang diajarkan dengan melakukan penelitian, wawancara dengan nara sumber, berdiskusi dan membuat presentasi di depan kelas, niscaya hal itu akan memberi nilai lebih pada proses pembelajaran. Dengan cara seperti ini mereka tidak hanya memperdalam pengetahuan, tetapi juga mengubah afeksi mereka. Pembelajaran seperti ini membuat murid lebih mencintai apa yang mereka pelajari dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran reflektif ini memberi dampak capaian yang signifikan dalam proses pembelajaran.
Sebagai contoh, banyak masyarakat (termasuk pelajar) yang latah dalam bersosial media. Mereka mudah sekali copas (copy paste) dan men-share secara gegabah berita yang dianggapnya menarik, tanpa terlebih dahulu meneliti kebenaran dan memikirkan dampak yang akan ditimbulkan. Tetapi ketika murid-murid melakukan penelitian mengenai dampak dari copas-copas ngawur ini, kini mereka akan berpikir sebelum men-share berita. Pengalaman afektif yang dialami mampu mengubah perilaku seorang murid. Inilah kehebatan dari sebuah pembelajaran reflektif, dimana pemahaman yang mereka  miliki tidak hanya sampai di batas pemikiran, tetapi sampai ke level afeksi (hati) dan tindakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar